POLMAN, POJOKRAKYAT — Dugaan pelecehan seksual yang dialami siswa Sekolah Rakyat (SR) Terintegrasi 22, Oknum guru kini jalani sidang etik di Kementerian Sosial (Kemensos) Republik Indonesia. Jum’at 30 Januari 2026.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinsos Polman Andi Hizbullah Matsar menyampaikan, persoalaan dugaan pelecehan seksual ini sudah ditangani oleh Sentra Nepotoe Palu sejak Senin dan kabar ini sudah tersiar di Kemensos sehingga Kepala Sentra Nepotoe datang sejak Senin lalu.
“Sentra Nepotewe sudah melakukan pertemuan antara guru dan korban, ternyata sudah ada kesepakatan damai antara korban dan oknum guru tersebut,” jelas Plt Kepala Dinsos Polman Andi Hizbullah.
Oknum guru tersebut sudah menjalani sidang kode etik di Kemensos dan dinonaktifkan untuk tidak mengajar sampai ada hasil sidang. Sementara korban langsung dibawa oleh Kepala Sentra Nepotoe ke Palu untuk pemulihan trauma.
Andi Hizbullah juga mengatakan, korban sebenarnya juga sedang sakit dan kejadian ini terjadi saat korban diantar ke RS untuk berobat rawat jalan karena agak lama menunggu obat sehingga anak ini dibawa istirahat di Penginapan dan di penginapan jika pengakuan oknum guru tidak ada kontak fisik.
“Korban dan oknum guru ini memang berdua di penginapan dan yang bayar penginapan ini guru,” jelas Andi Hizbullah.
Ia sendiri mengaku baru mengetahui kejadian tersebut setelah ada Kepala Sentra Nepotoe datang Senin kemarin dan ini sudah dimediasi dan diketahui keluarga korban.
“Kaduanya sepakat untuk tidak lanjut ke jalur hukum.” tandas Andi Hizbullah.
Ditempat yang sama PIC Sekolah Rakyat Mattotorang mengungkapkan jika siswi tersebut ada ganguan mental sebelum kejadian ini (red.dugaan kejahatan seksual). Toto mengatakan, di HP siswi tersebut ada vidio yang tidak pantas yang ditemukan saat pemeriksaan HP dan sempat di komunikasikan dengan sentra Palu Nepotewe.
“Pihak Sentra Palu Nepotewe sudah mengagendakan untuk merehabilitasi anak tersebut tapi dalam perjalanannya terjadi hal yang tidak diinginkan di hari Kamis 22 Januari 2026,” jelas Mattotorang.
Lanjutnya, orang tua korban ibunya di Kalimantan sementara korban sendiri tinggal dengan neneknya di Polman.
Toto juga mengatakan, jika oknum guru tersebut tidak mengakui perbuatannya. (bdt)













