POLMAN, POJOKRAKYAT — Di balik kesibukannya mengatur lalu lintas dan menjalankan tugas sebagai anggota Satuan Lalu Lintas Polres Polewali Mandar, AIPDA Irham mengisi waktu luangnya bertani durian.
Hamparan kebun seluas 1,5 hektare di Kelurahan Anreapi menjadi saksi perjalanan Irham mengubah waktu luang menjadi peluang. Apa yang bermula sebagai kegiatan mengisi hari-hari selama pandemi COVID-19 pada 2020, kini berkembang menjadi usaha budidaya durian premium yang menghasilkan puluhan juta rupiah.
Saat pandemi membatasi aktivitas masyarakat, Irham memilih memanfaatkan waktunya dengan menanam bibit durian di lahan miliknya. Keputusan itu lahir dari keyakinan bahwa bertani membutuhkan kesabaran, tetapi akan memberikan hasil yang sepadan bagi mereka yang tekun merawatnya.
Enam tahun berlalu, kerja keras itu mulai membuahkan hasil. Dari sembilan pohon yang telah berproduksi, Irham berhasil meraih pendapatan lebih dari Rp.20 juta pada tahun pertama pemasaran hasil panennya.
“Kali ini sudah kali ketiga panen. Tahun ini baru pertama dikomersialkan. Baru sembilan pohon yang berproduksi dan hasilnya sudah mencapai sekitar dua puluh jutaan rupiah,” ujar Irham saat ditemui di kebunnya, Rabu (1/7/2026).
Meski baru sembilan pohon yang menghasilkan, di kebunnya telah tumbuh lebih dari 90 pohon durian dengan sembilan varietas durian premium. Sebagian besar kini mulai memasuki fase pembuahan, membuka peluang panen yang lebih besar pada musim-musim berikutnya.
Bagi Irham, bertani bukan sekadar mencari tambahan penghasilan. Ia juga ingin berbagi pengalaman kepada masyarakat, terutama mereka yang memiliki pekerjaan tetap tetapi ingin mulai berkebun.
Ia menyarankan agar pemula tidak langsung menanam dalam jumlah besar. Menurutnya, 20 hingga 30 pohon sudah cukup ideal untuk dikelola, terutama bagi mereka yang tidak bisa setiap hari berada di kebun.
Budidaya durian, katanya, membutuhkan perhatian yang tidak sedikit. Mulai dari pemupukan, pengairan, hingga perawatan tanaman harus dilakukan secara konsisten agar menghasilkan buah berkualitas tinggi.
Kisah AIPDA Irham menjadi bukti bahwa keterbatasan waktu bukan penghalang untuk membangun usaha produktif. Di sela tugasnya sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, ia berhasil menumbuhkan harapan dari setiap pohon durian yang ditanamnya. Kini, pohon-pohon itu bukan hanya menghasilkan buah, tetapi juga menjadi simbol ketekunan, kesabaran, dan semangat memanfaatkan setiap peluang yang ada.(*)














