Daerah

Kerusakan Tanggul Tebing Sungai di Batetangnga Di Khatirkan Ancam Pemukiman

×

Kerusakan Tanggul Tebing Sungai di Batetangnga Di Khatirkan Ancam Pemukiman

Sebarkan artikel ini
IMG 20260908 WA0019

POLEWALI POJOKRAKYAT — Kerusakan bronjong penahan tebing sungai di Dusun Kanang, Desa Batetangnga, Kabupaten Polewali Mandar, kian mengkhawatirkan. Akibat abrasi luapan air sungai yang terjadi dalam dua tahun terakhir tidak hanya mengikis daratan, tetapi juga mengancam fasilitas umum vital serta pemukiman warga setempat.

Herman, warga Dusun Kanang, mengungkapkan bahwa kerusakan tanggul bronjong sepanjang sekitar 50 meter tersebut terjadi secara bertahap dalam dua gelombang banjir besar.

“Awalnya sekitar dua tahun lalu, bronjong penahan ini mulai bergeser dan jatuh. Lalu pada musim hujan tahun kemarin, runtuh lagi dan hanyut terbawa arus,” ujar Herman saat ditemui di lokasi, Senin (7/9/2026).

Ambruknya material bronjong yang terseret derasnya arus sungai kini menyisakan ancaman serius bagi keselamatan dan stabilitas lingkungan sekitar:

Terkikisnya tebing sungai menyebabkan fondasi bawah jembatan runtuh secara perlahan. Selain itu, tiang listrik utama yang berdiri di dekat bibir sungai rawan tumbang jika erosi kembali terjadi.

Jembatan tersebut merupakan urat nadi transportasi yang menghubungkan Desa Batetangnga dengan Desa Kaleok serta dusun-dusun tetangga yang padat penduduk. Jika jembatan ini roboh, mobilitas dan aktivitas ekonomi warga dipastikan lumpuh total.

Tanpa adanya struktur penahan tebing yang kokoh, luapan air dan longsor susulan pada musim hujan mendatang dikhawatirkan langsung menerjang deretan rumah warga yang berada tepat di dekat titik lokasi abrasi.

Melihat struktur bronjong kawat yang terbukti tidak kuat menahan terpaan banjir, warga berharap pihak terkait tidak lagi menggunakan konstruksi serupa untuk penanganan jangka panjang.

“Pengalaman kami, bronjong tidak bertahan menahan luapan air yang besar. Warga berharap pemerintah bisa membangun dinding penahan menggunakan batu gajah, karena struktur batu gajah terbukti lebih kokoh dan tahan lama di titik lokasi lainnya,” tegas Herman.

Menanggapi keluhan masyarakat, Kepala Desa Batetangnga, Sumaila Damang, membenarkan kondisi memprihatinkan yang dialami wilayahnya. Ia menjelaskan bahwa pihak desa telah berulang kali memasukkan usulan perbaikan penahan tebing sungai ke dalam Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang). Namun, keterbatasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes) serta anggaran daerah membuat pembenahan skala besar belum bisa direalisasikan.

Menurut Sumaila, potensi bencana akibat luapan sungai di Desa Batetangnga tidak hanya berada di satu lokasi, melainkan tersebar di beberapa titik rawan.

“Sebenarnya di Desa Batetangnga ada beberapa titik yang sangat terancam jika musim hujan tiba akibat luapan air sungai yang deras. Karena keterbatasan anggaran, kami sangat berharap ada respon cepat dari Balai Wilayah Sungai (BWS) maupun program dukungan seperti TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD),” jelas Sumaila.

Saat ini, warga beserta pemerintah desa hanya bisa berharap adanya langkah konkret dan respons cepat dari instansi kementerian terkait maupun pemerintah daerah serta program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) sebelum musim penghujan tiba dan memicu dampak yang lebih parah.(al)

IMG 20260902 WA0010
Daerah

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, terus diantisipasi. Di tengah kondisi kemarau yang cukup ekstrem, Babinsa jajaran Kodim 1402/Polman turun langsung ke tengah masyarakat untuk mengingatkan warga agar tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

IMG 20260827 WA0002
Daerah

Pembangunan Jembatan Perintis Garuda di Desa Pussui, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, telah rampung. Namun, pekerjaan belum berhenti. Kodim 1402/Polman melanjutkannya dengan karya bakti perintisan jalan sepanjang 2 kilometer yang menghubungkan jembatan tersebut dengan permukiman warga.