Daerah

Pemuda Paku Ingatkan Pemda Tak Asal-asalan Operasikan TPST Binuang

×

Pemuda Paku Ingatkan Pemda Tak Asal-asalan Operasikan TPST Binuang

Sebarkan artikel ini

Temukan Lindih Mengalir di Drainase

IMG 20260729 WA0003 scaled
Pemuda Desa Paku, Abd. Rahman S.

POLMAN,POJOKRAKYAT – Pemuda Desa Paku, Abd. Rahman S, melontarkan kritik keras terhadap operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Desa Paku yang dibangun dengan anggaran sekitar Rp17 miliar. Menurutnya, berbagai persoalan yang mulai bermunculan di lapangan menjadi alarm bahwa pemerintah tidak boleh hanya berhenti pada pembangunan fisik, tetapi harus bertanggung jawab memastikan seluruh sistem benar-benar bekerja.

IMG 20260729 WA0000
Air berwarna hitam diduga lindih yang ditemukan tokoh pemuda Paku.

Sorotan itu mencuat setelah terlihat air lindi berwarna hitam mengalir dari timbunan sampah menuju saluran drainase. Di sisi lain, muncul penjelasan bahwa mesin pemilah sampah mengalami kerusakan sehingga proses pemilahan dilakukan secara manual. Kondisi tersebut membuat sampah yang masih basah tetap masuk ke insinerator.

“Bagi kami, ini bukan lagi sekadar persoalan mesin yang rusak. Yang sedang diuji adalah keseriusan pemerintah mengelola uang rakyat. Kalau mesin utama tidak berfungsi dan pemilahan kembali dilakukan secara manual, lalu apa yang membedakan TPST Rp17 miliar ini dengan sistem lama yang selama ini disebut tidak lagi memadai?” kata Rahman, Rabu (29/7/2026).

Rahman menilai masyarakat tidak sedang mencari siapa yang salah, tetapi menunggu pertanggungjawaban pemerintah atas proyek yang sejak awal dipromosikan sebagai solusi modern pengelolaan sampah di Polewali Mandar.

“Jangan setiap ada persoalan jawabannya selalu ‘masih bisa diatasi’. Yang ingin diketahui masyarakat adalah mengapa persoalan itu bisa muncul begitu cepat. Bukankah proyek sebesar ini semestinya sudah memiliki perencanaan, mitigasi risiko, dan sistem pemeliharaan yang matang sejak awal?” ujarnya.

Rahman juga menyinggung kegiatan studi banding pengelolaan sampah ke Daerah Istimewa Yogyakarta yang sebelumnya diikuti oleh perwakilan Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar. Menurutnya, kunjungan tersebut seharusnya menghasilkan perubahan nyata dalam tata kelola pengelolaan sampah, bukan berhenti sebagai agenda seremonial.

“Kalau pemerintah pernah mengirim perwakilan untuk belajar ke daerah yang dinilai berhasil mengelola sampah, maka publik berhak bertanya, apa hasilnya? Apa yang dipelajari di sana benar-benar diterapkan di TPST Paku? Atau studi banding hanya menjadi kegiatan yang selesai ketika foto bersama berakhir?” tegasnya.

Menurut Rahman, persoalan di TPST Paku memperlihatkan masalah yang lebih besar daripada sekadar gangguan operasional. Ia menilai pemerintah harus membuktikan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada penyerapan anggaran dan penyelesaian proyek fisik, tetapi juga pada kualitas layanan yang diterima masyarakat.

“Jangan sampai pemerintah lebih serius membangun proyek daripada memastikan proyek itu bekerja. Jangan sampai lebih sibuk meresmikan daripada mengevaluasi. Dan jangan sampai lebih cepat membuat klarifikasi daripada menyelesaikan persoalan. Uang Rp17 miliar bukan angka kecil. Karena itu, masyarakat berhak menuntut akuntabilitas yang setara dengan besarnya anggaran yang telah dibelanjakan,” katanya.

Rahman mendesak Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar membuka secara transparan kondisi operasional TPST Paku, termasuk penyebab kerusakan mesin pemilah, sistem pengelolaan air lindi, jadwal perbaikan, serta hasil evaluasi internal terhadap fasilitas tersebut. Menurutnya, keterbukaan menjadi satu-satunya cara untuk membuktikan bahwa proyek tersebut benar-benar dibangun demi kepentingan publik, bukan sekadar memenuhi target pembangunan.

“Kalau pemerintah yakin TPST ini sudah berjalan sesuai konsep yang dijanjikan, buka seluruh data operasionalnya kepada publik. Biarkan masyarakat menilai. Sebab kepercayaan tidak dibangun melalui slogan, melainkan melalui transparansi, tanggung jawab, dan hasil yang benar-benar dirasakan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Polman Syarifuddin Wahab membantah air yang mengalir di drainase yang ditemukan pemuda Paku adalah air lindih. Ia menjelaskan bahwa pengolahan sampah di TPST Paku tidak lagi menggunakan metode lama.

“Disana tidak ada lindih karena saar ini konsepnya TPST, adapun air itu bukan lindih tapi air buangan insenerator dari suhunya,” tandas Syarifuddin Wahab.

Kemudian terkait Insenerator, Ia mengakui jika Insenerator belum optimal karena masih dalam tahap uji coba mesin. Ia juga memastikan proses pemilahan sampah di TPST Paku sudah berjalan untuk menghindari adanya sampah yang tidak bisa masuk ke Insenerator seperti botol parfum.

Syarifuddin juga mengatakan, kedepan yang akan dilibatkan di TPST Paku adalah masyarakat Paku sendiri.(rls/bdt)