POLEWALO, POJOK RAKYAT — Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW bersama Majelis Zikir bertajuk Pasar Baru Berzikir berlangsung khidmat di Taman TPI Pasar Baru, Polewali, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat kecintaan kepada Rasulullah SAW sekaligus menanamkan nilai-nilai persaudaraan, persatuan, dan kedamaian di tengah masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, Khodimul Majelis Pasar Baru Berselawat, Sayye Fahmi bin Abdul Kadir Alaydrus, menyampaikan bahwa acara itu dihadiri sejumlah ulama dan tokoh agama, di antaranya Habib Fahmi Binthohir Al Habsyi yang dikenal sebagai mursyid selawat dari Malang, Jawa Timur, Habib Abdillah bin Hamzah Baharun Jamalullah, serta Habib Abdillah bin Muhsin Al Hamid dari Makassar.
Turut hadir Ketua Rabithah Habib Hasan, Pimpinan Majelis An-Nur Habib Idrus Alyidrus, serta Khadimul Majelis Al Mujahadah Sulawesi Barat, Ustaz Andi Muhammad Alif Ibrahim.
Sejumlah tokoh pemerintahan dan masyarakat juga menghadiri kegiatan tersebut, termasuk anggota DPRD Provinsi Sulawesi Barat, Sayye Ari Ifthar Shihab yang akrab disapa Koje. Hadir pula perwakilan Bupati Polewali Mandar, yakni staf ahli bidang hukum, politik, dan camat polewali, Kapolsek Polewali bersama jajaran, para imam, serta jamaah dari berbagai kalangan.
Dalam sambutannya, perwakilan Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar menyampaikan permohonan maaf karena Bupati tidak dapat hadir lantaran adanya keperluan lain.
Dalam sambutannya, Sayye Ari Ifthar Shihab atau Koje mengajak masyarakat menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sebagai ruang untuk memperdalam pemahaman terhadap keteladanan Rasulullah, bukan sekadar kegiatan seremonial.
Ia menegaskan bahwa Rasulullah SAW telah mengajarkan bahwa kekuatan sejati bukanlah kemampuan untuk menindas orang lain, melainkan kesanggupan memaafkan, merangkul sesama, dan menjaga kedamaian.
“Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa kekuatan sejati bukan untuk menindas, melainkan untuk memaafkan dan merangkul sesama demi terciptanya kedamaian. Karena itu, saya hadir di acara ini karena ingin meneladani jejak Rasulullah. Bagi saya, kita semua yang hidup di dunia ini adalah saudara,” ungkap Koje.
Ia melanjutkan, meneladani Rasulullah berarti berusaha menghadirkan akhlak mulia dalam kehidupan sehari-hari. Sikap saling menghormati, menghindari permusuhan, menjaga lisan, serta mengedepankan musyawarah merupakan bagian penting dari ajaran yang perlu diamalkan bersama.
Menurutnya, perbedaan pandangan, latar belakang, maupun kepentingan tidak seharusnya menjadi alasan untuk memutus tali persaudaraan. Sebaliknya, perbedaan harus menjadi ruang untuk saling memahami dan memperkuat kebersamaan.
“Jangan sampai kita mengaku mencintai Rasulullah, tetapi dalam kehidupan sehari-hari justru mudah membenci, menyakiti, dan merendahkan sesama. Kecintaan kepada Rasulullah harus tercermin dalam akhlak, tutur kata, dan tindakan kita. Kalau kita ingin mendapatkan keberkahan dari selawat yang kita lantunkan, mari kita buktikan dengan perilaku yang membawa manfaat bagi orang lain,” lanjutnya.
Koje juga mengajak masyarakat untuk menjadikan masjid, majelis zikir, dan kegiatan keagamaan sebagai tempat mempererat silaturahmi serta membangun persatuan di tengah kehidupan sosial.
Ia menilai, semangat kebersamaan sangat dibutuhkan untuk menjaga keharmonisan masyarakat, terutama di tengah berbagai perbedaan yang dapat muncul dalam kehidupan bermasyarakat maupun dalam dinamika politik.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW melalui kegiatan Pasar Baru Berzikir diharapkan tidak hanya menjadi sarana melantunkan selawat dan mengenang kelahiran Rasulullah, tetapi juga menjadi momentum memperbaiki akhlak serta memperkuat hubungan antarsesama.
Keteladanan Rasulullah SAW mengajarkan bahwa kemuliaan seseorang tidak semata-mata diukur dari kedudukan, kekuasaan, maupun harta, tetapi juga dari kejujuran, kerendahan hati, kepedulian, dan kemampuannya memperlakukan orang lain dengan baik.(*)













