Daerah

100 Hari Pemerintahan Polman: Rakyat Bangun Jalan Sendiri dan Sampah Masih Tetap Menumpuk

×

100 Hari Pemerintahan Polman: Rakyat Bangun Jalan Sendiri dan Sampah Masih Tetap Menumpuk

Sebarkan artikel ini
IMG 20250612 WA0000
Dzakwan Mubarak — Masyarakat Kecamatan Alu.

POLMAN, POJOKRAKYAT.ID — Seratus hari pertama biasanya menjadi tolak ukur awal untuk menilai arah dan komitmen pemerintahan yang baru dilantik. Di Polewali Mandar (Polman), sederet pencapaian telah dipublikasikan: dari penanggulangan stunting, pelayanan kesehatan massal, hingga digitalisasi sistem pengaduan. Namun, sebagaimana sering terjadi dalam politik pembangunan, yang tersaji di atas kertas tidak selalu sejalan dengan realitas di lapangan.

Contoh nyata datang dari Dusun Tologo, Desa Puppuring, Kecamatan Alu. Ketika akses jalan utama terputus akibat longsor, yang turun tangan bukanlah alat berat milik pemerintah, melainkan tangan-tangan warga sendiri. Tanpa dukungan logistik, tanpa bantuan material, dan bahkan tanpa pengakuan resmi, masyarakat bergotong royong membuka kembali jalur vital menuju pusat desa. Sebuah ironi pahit: ketika infrastruktur yang sejatinya menjadi tanggung jawab negara justru dipikul sepenuhnya oleh rakyat.

Lebih dari sekadar kasus jalan desa, situasi ini menggambarkan absennya negara dalam fungsi paling mendasarnya — menyediakan pelayanan dasar dan menjamin aksesibilitas wilayah. Ketidakhadiran itu pun berulang dalam persoalan lain yang tak kalah krusial: pengelolaan sampah.
Menurut data Dinas Lingkungan Hidup Polewali Mandar tahun 2023, wilayah ini menghasilkan lebih dari 100 ton sampah rumah tangga setiap harinya. Sayangnya, kapasitas pengelolaan baru mencapai 60%, menyisakan 40 ton sampah yang tidak tertangani setiap hari. Ke mana larinya sampah-sampah itu? Kemungkinan besar ke sungai, pasar, dan bahkan pesisir pantai — memperparah krisis ekologis yang secara perlahan menghantam kualitas hidup warga.
Yang membuat situasi ini semakin getir adalah nihilnya transparansi kebijakan dan minimnya solusi konkret dari pemerintah daerah. Tidak ada peta jalan pengelolaan lingkungan yang jelas, tidak ada keberanian dalam membuat lompatan kebijakan. Yang ada hanyalah alasan klasik: keterbatasan anggaran dan armada. Dalih yang tampaknya sudah menjadi mantera pengalihan tanggung jawab.

Kita tidak sedang menuntut kesempurnaan. Tetapi, apakah terlalu berlebihan jika masyarakat mengharapkan kehadiran negara dalam bentuk paling elementer: menyediakan jalan dan mengelola sampah? Apakah harus menunggu bencana datang atau video viral di media sosial baru kemudian pemerintah tersentak dari tidurnya?
Seratus hari pertama seharusnya bukan sekadar panggung pencitraan, melainkan momentum refleksi — sejauh mana pemerintahan ini benar-benar hadir menjawab kebutuhan rakyat, bukan sekadar membacakan laporan di konferensi pers.

Pembangunan berkelanjutan bukan sekadar slogan, ia harus diwujudkan dalam kerja nyata yang menyentuh kehidupan sehari-hari. Jika jalan dibangun rakyat, dan sampah tetap menumpuk, maka kita patut bertanya: untuk siapa sebenarnya pemerintahan ini bekerja?

Polewali Mandar tidak butuh janji baru. Yang dibutuhkan adalah keberpihakan yang nyata dan tindakan yang berpijak pada realitas. Pemerintah daerah harus kembali ke akarnya — melayani, bukan ditapaki.(*)

IMG 20260204 WA0005
Daerah

Material untuk pengerjaan sasaran fisik TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 Kodim 1402/Polman mulai didorong dan dilansir ke lokasi sasaran fisik, Rabu (4/2/2026). Pelansiran material tersebut menjadi bagian dari tahapan pra-TMMD sebelum pengerjaan fisik dilaksanakan secara penuh.

IMG 20260202 WA0009
Daerah

Pelaksanaan pra-TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-127 Kodim 1402/Polman resmi dimulai. Warga Desa Lenggo tampak antusias bergotong royong membersihkan jalan menuju lokasi sasaran TMMD di jalan Poros lenggo-bulo, Dusun Beddo, Desa Bulo, Kecamatan Bulo, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat, Minggu (1/2/2026).

IMG 20260118 WA0011
Daerah

Bupati Polewali Mandar, H. Samsul Mahmud, melalui Pemerintah Kecamatan Luyo bersama pihak Kampus Batupanga, turun langsung ke lapangan untuk memastikan kebenaran informasi terkait kondisi air yang digunakan untuk kebutuhan bayi Anisa.