BeritaPendidikan

Refleksi Pendidikan: Antara Akhlak dan Kecerdasan

×

Refleksi Pendidikan: Antara Akhlak dan Kecerdasan

Sebarkan artikel ini
Screenshot 20250731 142518 WhatsAppBusiness

POLMAN, POJOK RAKYAT — Di negeri yang katanya menjunjung nilai-nilai pendidikan dan keteladanan, ironisnya, guru bisa ditikam di depan murid lain oleh seorang siswa yang mabuk. Ini bukan cerita fiksi distopia, tapi kenyataan pahit yang terjadi di SMK Desa Kasano, Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. Seorang pelajar SMA berinisial AI (17) masuk ke sekolah orang lain, dalam keadaan mabuk miras cap tikus, menenteng badik, mengamuk karena cemburu, lalu menikam seorang guru, Sabaruddin, yang coba melerai.

Di mana letak nurani kita saat seorang guru—simbol moral dan cahaya ilmu—harus menjadi korban dari amarah anak muda yang kehilangan kendali? Apakah ini sekadar kasus kriminal remaja biasa? Ataukah sebenarnya kita sedang berhadapan dengan wajah buram pendidikan karakter di negeri ini?

Ketika Sekolah Tak Lagi Aman

Kasus ini mengguncang kita bukan hanya karena ada kekerasan fisik, tapi karena tempat kejadian perkara adalah sekolah—tempat yang seharusnya menjadi ruang aman, ruang belajar, dan ruang membentuk nilai-nilai kemanusiaan. Namun, apa jadinya jika sekolah justru diserbu oleh amarah, dendam, dan pengaruh miras yang dibeli dengan mudah di SP1?

Padahal, konstitusi kita sudah menjelaskan dengan terang: pendidikan nasional bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Tapi bagaimana semua itu bisa dicapai jika sekolah tak mampu menghalau miras dari pagar gerbangnya sendiri?

Cemburu, Kekerasan, dan Cacatnya Pendidikan Karakter

Motif pelaku: cemburu. Pelaku mencari pacarnya, menuduh selingkuh, lalu menyerang membabi buta. Di sini kita melihat bagaimana kecerdasan emosional nyaris tak terbentuk. Tidak ada pengendalian diri, tidak ada nalar sehat. Yang ada hanya ego dan emosi.

Tan Malaka pernah berkata, “Tujuan pendidikan itu untuk mempertajam kecerdasan, memperkukuh kemauan serta memperhalus perasaan.” Lalu apa yang salah jika kita menemukan seorang pelajar yang mabuk dan menodai sekolah dengan darah gurunya? Apakah yang salah adalah muridnya? Atau sistem yang membentuknya? Atau kita semua yang terlalu lama membiarkan pendidikan berjalan tanpa jiwa?

Remaja, Miras, dan Negara yang Terlalu Sibuk Urusan Lain

Kita tahu, anak-anak bisa membeli cap tikus semudah membeli kopi instan. Maka jangan salahkan hanya anak-anak, sebelum kita bertanya pada negara dan masyarakat yang membiarkan pasar miras beredar di desa-desa. Polisi memang cepat bertindak. Tapi apakah cukup cepat mencegah?

Pramoedya Ananta Toer dengan getir menulis: “Alangkah sia-sia pendidikan orangtua kalau demikian. Alangkah sia-sia pendidikan agama. Alangkah sia-sia guru dan sekolah-sekolah.” Dan hari ini, kata-kata itu kembali menggema di ruang-ruang sekolah yang semestinya menjadi tempat pertumbuhan, bukan tempat kekerasan.

Refleksi: Untuk Apa Kita Mendidik?

Apakah kita mendidik hanya agar anak-anak lulus ujian, dapat nilai rapor tinggi, atau diterima di universitas? Atau seharusnya pendidikan menjadi jalan untuk membentuk manusia yang utuh—yang berpikir, merasa, dan bertindak secara bijak dan manusiawi? Ki Hadjar Dewantara mengingatkan kita, “Apa pun yang dilakukan oleh seseorang itu, hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya.” Maka pertanyaannya: apakah pendidikan kita masih memberi ruang bagi anak-anak untuk tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat?

Bukan hanya guru yang ditikam hari itu. Tapi juga harapan kita terhadap nilai-nilai pendidikan yang kita banggakan di atas podium-podium seminar. Jangan sampai kita terus memproduksi generasi yang pintar secara teknis, tapi hampa secara etik dan emosi.

Sekolah, Masyarakat, dan Tanggung Jawab Kita Bersama

Kejadian ini harus menjadi cambuk. Sekolah tidak bisa berjalan sendiri. Guru tidak bisa sendirian. Negara tak bisa diam. Orangtua tak boleh lepas tangan. Ini soal tanggung jawab kolektif dalam membentuk karakter anak bangsa. Kalau kita abai hari ini, maka luka yang kemarin mungkin hanya awal dari tragedi-tragedi yang lebih menyakitkan esok hari.

Jangan biarkan sekolah menjadi tempat kekerasan dibenarkan atas nama cinta. Jangan biarkan anak-anak kita dibentuk oleh pasar miras, tontonan brutal, dan lingkungan yang tak pernah mengajarkan nilai kehidupan. Kita semua punya peran, dan semua bisa dimulai dari hal sederhana: hadir dan peduli.

IMG 20260725 WA0007
Pendidikan

Lembaga Pers Mahasiswa (Lapersma) ITBM Polewali Mandar bekerja sama dengan Majelis Pustaka dan Informasi PWM Sulawesi Barat menggelar Rapat Kerja dan Pelatihan Jurnalistik di lingkungan Kampus ITBM Polman, Ugi Baru, Kecamatan Mapilli, Jumat (25/7/2026). Kegiatan ini diikuti oleh 12 orang mahasiswa sebagai peserta.

IMG 20260724 WA0003
Pendidikan

Sebanyak tujuh guru berstatus Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dipercaya menduduki jabatan definitif sebagai kepala sekolah di Kabupaten Polewali Mandar (Polman). Selain itu, puluhan guru PPPK lainnya juga ditunjuk sebagai Pelaksana Tugas (Plt) kepala sekolah untuk mengisi kekosongan jabatan di sejumlah sekolah.

Screenshot 20260723 201934 Gallery
Pendidikan

POLMAN, POJOKRAKYAT — Dinas Pendidikan Kabupaten Polewali Mandar (Polman) Anggarkan Rp. 250 jutaan untuk pendataan sekolah rusak Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah pertama (SMP) yang tersebar disejumlah Kecamatan di Polman. Rabu 23 Juli 2026.

Data dan informasi yang dihimpun, pendataan tingkat kerusakan sekolah ini tersebar dibeberapa Kecamatan dengan nilai anggaran yang berbeda-beda.

1. Wilayah Kecamatan Limboro, Alu dan Tutar Rp. 50 Juta.
2. Wilayah Kecamatan Binuang, Polewali, Anreapi dan Matakali Rp. 41 juta.
2. Wilayah Wonomulyo, Tapango dan Matangnga Rp. 31 Juta.
3. Wilayah Campalagian, Balanipa dan Tinambung Rp. 43 juta.
4. Mapilli, Luyo dan Bulo Rp. 33 Juta.
5. Pendataan Sekolah rusak SMP Rp. 52 juta

Kepala Bidang Sarana Prasarana Dinas Pendidikan (Sarpras) Gunawan menjelaskan bahwa pendataan sekolah rusak untuk menindaklanjuti hasil temuan dari BPK, karena data tingkat kerusakan yang terinput di Dapodik yang dilakukan oleh sekolah dianggap belum valid oleh BPK sehingga kita Menindaklanjuti temuan BPK tersebut dengan melakukan pendataan dan verifikasi kembali di semua SD dan SMP di Kab. Polman.

“kita melibatkan 20 orang tenaga ahli yang memiliki latar pendidikan teknik yang mengerti tentang analisis kerusakan bangunan,” jelas Kepala Bidang Sarpras Gunawan.

Inti dari kegiatan tersebut adalah Menindaklanjuti rekomendasi BPK seandainya tidak ada temuan atau rekomendasi BPK Kami tidak akan melakukan proses itu karena memang sudah dilakukan oleh sekolah, namun datanya dianggap belum valid oleh BPK sehingga kami melakukan proses pendataan kembali yang dilakukan oleh tim teknis yang punya latar belakang pendidikan teknis. Tegasnya.

Sementara untuk besaran anggaran tiap Kecamatan berbeda, Gunawan menjelaskan, “kalau saya tidak salah, dihitung secara proporsional berdasarkan jumlah sekolah yang diverifikasi kembali dan dihitung analisis tingkat kerusakannya.” tuturnya

Ia menambahkan, jika dilihat dari total anggaran bisa digunakan untuk rehabilitasi ruangan satu kelas, tetapi Rp. 250 juta ini dibagi 420 sekolah nilai anggaran untuk satu sekolah hanya Rp. 500 ribuan saja.

“Setiap sekolah memiliki 12 ruang kelas yang dilakukan pendataan dan perhitungan, sebenarnya anggaran ini sangat kecil.” ujarnya.

Ia menargetkan pendataan ini rampung pada bulan Agustus yang akan datang.(arf)