Pendidikan

Penamatan Al-Risalah Batetangnga, Bupati Polman Sumbangkan Gaji 10 Bulan

Pojoknews
×

Penamatan Al-Risalah Batetangnga, Bupati Polman Sumbangkan Gaji 10 Bulan

Sebarkan artikel ini

Pesantren Benteng Moral Generasi

IMG 20260515 WA0003

POLMAN, POJOKRAKYAT.ID — Ribuan pasang mata larut dalam suasana haru, khidmat, dan penuh kebanggaan pada pelaksanaan Khataman Sharaf XI dan Haflatul Ikhtitam VIII Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga, Kamis, 14 Mei 2026. Di tengah derasnya arus zaman, krisis adab, dan tantangan moral generasi muda, pesantren kembali ditegaskan sebagai benteng terakhir penjaga akhlak dan karakter bangsa.

Kegiatan yang dipusatkan di kompleks Pondok Pesantren Putra Al-Risalah Batetangnga itu tidak sekadar menjadi seremoni penamatan santri. Momentum tersebut menjelma menjadi ruang besar silaturahmi antara ulama, pemerintah, masyarakat, alumni, dan wali santri dari berbagai daerah untuk menegaskan pentingnya peran pesantren dalam menjaga masa depan umat.

Sebanyak 239 santri mengikuti Khataman Sharaf XI, terdiri atas 116 santri putra dan 123 santri putri. Sementara pada Haflatul Ikhtitam VIII, sebanyak 387 santri resmi menyelesaikan pendidikannya, mulai tingkat MI, Wustha, hingga MA Program Keagamaan dan Pendidikan Diniyah Formal (PDF).

Kegiatan ini turut dihadiri Bupati Polewali Mandar H. Samsul Mahmud, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Barat Dr. H. Adnan Nota, Kabid Pakis Kanwil Kemenag Sulbar Dinar Faisal, anggota DPRD Provinsi Sulawesi Barat dan DPRD Kabupaten Polewali Mandar, para pimpinan pondok pesantren, tokoh masyarakat, serta wali santri.

Dalam laporan pembukanya, Ketua Yayasan Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga, Dr. M. Ali Rusdi Bedong, menegaskan bahwa pesantren hari ini tidak lagi dipandang semata sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi telah menjadi kekuatan sosial dan ekonomi masyarakat.

“Alhamdulillah, Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga terus menunjukkan perkembangan signifikan. Prestasi santri hadir di tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional. Bahkan keberadaan pesantren turut menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar, mulai dari sektor katering, perdagangan, hingga pembangunan yang nilainya diperkirakan mencapai lebih dari lima miliar rupiah setiap tahun,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan bahwa santri Al-Risalah Batetangnga berasal dari 15 provinsi di Indonesia, mulai Sulawesi, Jawa, Kalimantan, NTB, NTT hingga Papua. Alumni pondok pesantren kini telah mencapai 2.304 orang dan tersebar di berbagai daerah di Indonesia hingga luar negeri, termasuk di Kairo, Mesir.

“Ini menjadi bukti bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pesantren terus tumbuh,” tambahnya.

Sementara itu, Pendiri Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga, Dr. H. Muhdin Bedong, menyampaikan apresiasi mendalam atas kehadiran Bupati Polewali Mandar yang dinilainya sebagai bentuk penghormatan pemerintah terhadap dunia pesantren.

“Selama kegiatan penamatan ini dilaksanakan, baru kali ini seorang bupati hadir langsung bersama santri dan wali santri. Ini adalah penghormatan besar bagi keluarga besar Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga,” tuturnya disambut tepuk tangan hadirin.

Dalam sambutannya, beliau juga menegaskan pentingnya menjaga sanad keilmuan pesantren agar tradisi ilmu tetap memiliki legitimasi dan pertanggungjawaban yang jelas.

“Sanad keilmuan Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga tersambung dengan Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan dan Salafiyah Parappe. Pesantren tidak boleh kehilangan akar keilmuannya,” tegasnya.

Nuansa reflektif semakin terasa ketika Kepala Kanwil Kementerian Agama Sulawesi Barat, Dr. H. Adnan Nota, menegaskan pentingnya kolaborasi antarpesantren melalui pembentukan Forum Pondok Pesantren Sulawesi Barat.

“Kami ingin pesantren memiliki ruang bersama untuk berdiskusi, saling menguatkan, dan menyampaikan aspirasi kepada pemerintah. Pesantren harus tumbuh bersama,” jelasnya.

Di tengah sambutannya, beliau mengutip pesan ulama kharismatik KH. Maimoen Zubair atau Mbah Moen tentang hakikat keikhlasan seorang guru.

“Mbah Moen pernah mengatakan, tugas guru bukan mencerdaskan santri, sebab yang mencerdaskan adalah Allah SWT. Tugas guru adalah mengikhlaskan dirinya dalam mengajarkan ilmu,” ungkapnya.

Puncak suasana emosional terjadi saat Bupati Polewali Mandar, H. Samsul Mahmud, menyampaikan pidato yang menyentuh hati para wali santri. Dengan nada personal, ia mengaku memahami beratnya perasaan orang tua yang harus melepas anaknya mondok jauh dari rumah.

“Membawa anak ke pesantren memang berat. Tetapi inilah jalan mulia untuk menyelamatkan masa depan mereka,” ungkapnya.

Ia kemudian menyoroti kondisi sosial masyarakat hari ini yang dinilai sedang mengalami krisis etika dan adab.

“Hari ini orang begitu mudah marah, mudah menghina, merasa paling benar, dan kehilangan penghormatan kepada sesama. Karena itu pesantren menjadi sangat penting sebagai benteng moral generasi,” tegasnya.

Menurutnya, bangsa ini tidak hanya membutuhkan generasi pintar, tetapi juga generasi yang memiliki karakter, adab, dan keluasan ilmu.

“Harapan besar kita, generasi seperti itu lahir dari Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga,” tambahnya.

Kepada para wisudawan dan wisudawati, ia berpesan agar ilmu agama yang diperoleh tidak berhenti pada hafalan dan teori semata, tetapi benar-benar hidup dalam perilaku sosial.

“Ilmu agama yang paling baik adalah ilmu yang melahirkan keteladanan di tengah masyarakat,” pesannya.

Suasana semakin haru ketika di hadapan ribuan hadirin, Bupati Polewali Mandar menyampaikan komitmen pribadinya untuk membantu pembangunan Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga.

“InsyaAllah, saya akan menyumbangkan gaji saya sebagai Bupati selama 10 bulan untuk membantu pembangunan Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga,” ungkapnya disambut tepuk tangan panjang para santri dan wali santri.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu momen paling menyentuh dalam kegiatan itu. Komitmen tersebut dinilai bukan sekadar bantuan materi, tetapi simbol perhatian dan keberpihakan nyata pemerintah daerah terhadap pesantren sebagai pusat pendidikan moral dan pembinaan generasi.

Menutup sambutannya, Bupati Polewali Mandar kembali menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Polewali Mandar dalam memperkuat dukungan terhadap pesantren melalui penyusunan Peraturan Daerah (Perda) Pesantren.

“Kami sedang menggodok Perda Pesantren agar bantuan kepada pondok pesantren dan para kiai memiliki payung hukum yang kuat. Ini bentuk komitmen pemerintah daerah terhadap pesantren,” tegasnya.

Melalui Khataman Sharaf XI dan Haflatul Ikhtitam VIII ini, Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga kembali menegaskan eksistensinya bukan hanya sebagai lembaga pendidikan Islam, tetapi juga sebagai pusat pembinaan karakter, penjaga sanad keilmuan, serta benteng moral generasi di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks.(rls)

IMG 20260419 WA0013
Pendidikan

“Dari 2.032 pendaftar se-Indonesia, hanya 302 yang dinyatakan lolos, dan di Sulawesi Barat hanya Mandar Peduli Lingkungan yang mendapat kesempatan ini. Ini menjadi amanah besar bagi kami untuk terus bergerak,” ujar Trisno.

Screenshot 20251111 081355 Facebook
Hukum

Plafon ruang guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) 065 Desa Bala, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polewali Mandar (Polman) ambruk pada Selasa, 11 November 2025. Peristiwa ini memunculkan pertanyaan terkait kualitas pembangunan dan pengawasan dari pihak pelaksana maupun Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Polman.